Senin, 10 April 2017

Cerita ditengah Jalur Pendakian

awalnya semua terasa gampang
aku menyusunnya dengan sangat rapi dan teliti
tanpa ragu akan hambatan yang akan datang.
aku menyusunnya sambil memejamkan mata di kasur empuk yang dibelikan papa dengan gaji bonusnya
semua kebutuhanku sudah dipersiapkan mama dan papa.

dan hari pendakian dimulai.

aku ingat hari itu papa menangis pertama kalinya dihadapan ku
dia menangis melihatku pergi untuk memulai jadwal pendakian ku
sambil memejamkan mata nya yang mulai terlihat lelah karena termakan usia
di berdiri disudut rumah yang saat ini kurindukan
sambil menggenggam erat kedua tangannya dia mengucapkan doa yang sangat indah

saat itu aku sadar, semua tidak akan mudah
ini bukan hanya pendakianku
ini pendakian papa dan mama juga
mereka berjanji mendaki bersamaku dalam doa mereka.

hingga akhirnya aku tiba di post 1 pendakian,
aku mulai merasakan bebannya dipundakku
aku terus berjalan dan melewati setiap pos dengan senyum dan terus berdoa
aku bertemu banyak teman pendaki dan banyak hal indah lainnya

hingga akhirnya aku tiba di pos terakhir pendakian sesuai dengan jadwal papa & mama, tetapi seikit lebih cepat dari jadwalku
saat ini, semua terasa mengerikan, semakin tinggi
angin yang bertiup semakin kencang hinggda dinginnya menusuk tulangku
semua terasa seperti ingin membunuhku, semua, semua hal
tanaman yang tadi kulihat indah, bahkan teman-teman pendaki ku

satu hal yang ingin aku lakukan saat ini,
berteriak!
aku ingin berteriak
"aku tidak sekuat itu, lepaskan aku, kenapa aku ?"
tidak itu belum cukup puas bagi ku,
aku ingin berteriak dengan tangisan yang berlimpah,
"papa, mama aku menyerah"
aku ingin memejamkan mataku sejenak dan bergumam dalam hati,
"Tuhan, aku tidak sekuat itu, anakmu ini lemah, kenapa kau pilih aku, gunung ini terlalu hebat untuk ku tandingi"
namun Dia menjawab,
"hey, nak, masih ada gunung lain yang harus kau daki, tugas mu belum selesai, bangun, berdirilah tegak dan berjalan terus, Aku berjalan dibelakangmu, berbaliklah jika kau ingin menyerah, kupastikan kau akan berjalan kedepan lagi, papa & mama mu adalah anak-anak Ku, Aku mengasihi mu, demikian juga mereka, majulah terus, kami bersamamu"

wah, Dia berbicara dengan senyum dan sangat gembira disaat aku berteriak kepadanya dengan tangisan
dan untuk kesekian kalinya,
Dia membuat aku sadar lagi
"ah ini bukan apa-apa,
belum apa-apa,
dan kau tidak apa-apa,
kau baik-baik saja,grace
teruslah berjalan"

dan sekarang aku terus berjalan dengan rasa penasaran dan kembali menyusun jadwal rapi untuk pendakian berikutnya. 


To be continued...

Peace in our heart.
happyhippie
-G-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar